Minggu, 18 Oktober 2009

hanya untuk orang terkasih

ha................................

thx untuk smuanya..
semoga ini akan jadi sesuatu yang nantinya akan dibanggakan.....

Rabu, 14 Oktober 2009

BOSEN

bosen juga lama kelamaan mesti kaya gini..blum ngurusin yg ini..yang itu...diri sendiri aja g d urusin..heu...
nampaknya tekad bulan januari kedepan untuk pensiun dini darii UKM bakal tlaksana deh...

pgn konsen kul....pgn konsen menghabiskan waktu buat mereka....tapi tidak untuk yang lain ha..................................................................

ya sekarang jalanin aja seperti jadi seorang KURA_KURA (kuliah rapat-kuliah rapat)..
heuh....................

Senin, 13 Juli 2009

Menulis Butuh Penjiwaan

Menulis Butuh Penjiwaan

Menulis artikel kadang jadi sesuatu yang sulit. Padahal, sebenarnya menulis memiliki kesenangan tersendiri. Namun semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jika menulis dilakukan dengan pembawaan terpaksa dan paradigma yang membosankan, tentunya menulis jadi satu hal yang sangat tidak menyenangkan. Sebaliknya, jika menulis dilakukan atas dasar kesenangan, maka semuanya akan menjadi menarik.

Yang jelas, untuk bisa menulis membutuhkan penjiwaan. Pasalnya, jika kita tidak melakukan penjiwaan terhadap tulisan yang dibuat, hasilnya pun tak akan maksimal. Penjiwaan itulah yang seharusnya ditumbuhkan terlebih dahulu untuk merangkai kata menjadi sajian yang menarik agar dibaca orang.

Mungkin kata “penjiwaan” terkesan berlebihan bagi pembaca. Tapi hal itu justru yang paling krusial saat kita ingin membuat suatu tulisan, khususnya artikel. Dan hal pertama yang harus dilakukan ketika akan mulai menulis adalah terjun langsung pada apa yang ingin disampaikan. Jangan sampai apa yang akan ditulis menjadi bumerang karena tidak memahami pokok bahasan yang ingin disampaikan.

Ada beberapa hal yang harus ditempuh untuk membuat suatu tulisan. Namun tentu saja hal itu berpulang pada tujuan apa kita menulis. Jika tulisan tersebut hanya untuk kesenangan, maka kita bebas mencurahkan tulisan dengan seenaknya. Tapi ketika tulisan tersebut ingin dibaca oleh banyak orang, penulis jangan sampai lupa pada psikologis pembacanya.

Berikut ini merupakan hal yang harus dilakukan ketika ingin membuat tulisan; a. kuasai apa yang ingin disampaikan, b. perbanyak referensi bacaan, c. pilih pembahasan yang disukai, d. rumuskan tujuan yang ingin dicapai, dan e. pikirkan efek yang dapat timbul dari tulisan kita

a. Kuasai apa yang ingin disampaikan

Hal yang benar-benar dikuasai akan lebih mudah untuk dilakukan. Begitu juga dengan tulisan yang akan dibuat. Contohnya, mahasiswa dari jurusan komunikasi akan lebih menguasai ketika menulis sesuatu yang berhubungan dengan komunikasi. Karena bagaimanapun, seseorang yang hidup dalam lingkungan tertentu akan lebih menguasai bidang tersebut. Disadari ataupun tidak, hal itu tertanam dan membuat seseorang memiliki kecenderungan salah satu hal yang dikuasai.

Jika penulis menguasai suatu pembahasan, maka pemikiran pun akan muncul dengan sendirinya. Tapi ada hal yang harus dijaga oleh penulis ketika ingin menuangkan pikirannya dalam tulisan. Kadang, perasaan menguasai sesuatu bisa membuat penulis merasa besar kepala dan tidak mempedulikan orang lain. Dan yang lebih fatal adalah menganggap orang lain tidak lebih baik dari penulis. Hal itulah yang harus dihindari tanpa kecuali.

Satu hal yang harus ditekankan, penulis tidak boleh menulis yang dikuasainya dengan setengah. Ini tidak berarti melarang seseorang untuk menulis. Justru, jika penulis tidakmenguasai suatu pemikiran secara baik, salah-salah tulisan tersebut malah menjadi tulisan yang mentah dan terkesan setengah-setengah.

b. Perbanyak referensi bacaan

Gaya tulisan seseorang sangat dipengaruhi oleh latar belakang, motivasi, dan bacaan atau hal yang dipelajari untuk dijadikan referensi. Semakin banyak bahan referensi yang menjadi acuan, maka tulisan tersebut akan semakin kaya. Dari sekian banyak penulis hebat, mereka pasti memiliki referensi tersendiri untuk menulis karyanya.

Contohnya, mereka yang menyukai membuat tulisan yang bersifat mengkritisi pemerintah lebih cenderung menyukai bacaan yang sejenis. Dengan membaca tulisan orang lain, justru bisa memperkaya bahan yang bisa digunakan untuk menulis. Selain menambah pengetahuan, gaya tulisan juga sangat terasa. Dengan memperbanyak referensi bacaan, hal itu juga bisa menambah perbendaharaan kosakata, pemikiran, arah dan tujuan yang ingin dicapai.

c. Pilih pembahasan yang disukai

Kesukaan penulis terhadap suatu hal bisa membuat seseorang merasa enjoy dalam menulis. Misalnya, seseorang yang menyukai karya sastra akan lebih menyukai membuat tulisan yang berbau sastra. Tapi ketika penulis tersebut dibebankan untuk membuat tulisan dengan tema politik, maka penulis tersebut akan kesulitan untuk membuat tulisannya kecuali bagi mereka yang menyukai banyak hal.

Seseorang yang menyukai pokok bahasan yang ingin disampaikan akan cenderung lebih mudah dalam membuat tulisan. Hal itulah yang kemudian bisa memicu penulis menyajikan tulisan yang berkualitas. Karena biasanya, orang yang melakukan sesuatu dengan rasa suka akan lebih mudah dalam melakukan sesuatu yang orang itu suka. Begitu juga dalam menulis, faktor kesukaan membuat tulisan itu dibuat secara totalitas.

d. Rumuskan tujuan yang ingin dicapai

Hal lain yang harus diperhatikan adalah merumuskan untuk apa tulisan tersebut. Jika tulisan tersebut dibuat untuk pribadi, maka buatlah tulisan dengan gaya yang diinginkan penulis. Yang pasti, suatu tulisan harus memiliki tujuan. Jika tulisan tersebut hanya dilakukan untuk mempengaruhi orang lain, maka buatlah orang lain tersebut terpengaruh oleh tulisan penulis.

e. Pikirkan efek yang ditimbulkan

Seringkali, penulis tidak memikirkan efek yang ditimbulkan dari tulisannya. Padahal tanpa disadari, efek yang muncul dari suatu tulisan berdampak besar bagi pembaca. Baik atau buruk efek yang ditimbulkan, penulis harus bisa memprediksikan apa yang akan muncul nanti. Sebab dengan begitu, penulis bisa mengantisipasi jika tulisannya berdampak buruk.

Efek buruk yang harus diperhatikan tentu efek negatifnya. Sebab jika hanya memikirkan efek baik dari tulisan kita, maka ketika terjadi kemungkinan buruk, penulis cenderung akan kaget. Apalagi jika kemudian tulisan tersebut berdampak terhadap banyak sektor. Di sinilah penulis dituntut untuk bisa menyelesaikan masalah dari tulisannya lebih awal. Dengan demikian, maka efek buruk bisa dicegah lebih awal.

Untuk hal teknis mengenai teknik menulis, ada beberapa orang yang menulis bagaimana cara menulis artikel. Dari sekian banyak tulisan seperti itu, tentunya memiliki kelebihan masing-masing. Namun yang jelas, semuanya bertujuan untuk membagikan ilmu mereka pada pembaca. Dan jika kita ingin memperoleh wawasan yang luas, maka membaca beberapa buku sebagai referensi bisa menjadi hal yang memperkaya tulisan.

Dari tataran teknis misalnya, Sudaryono Achmad dalam salah satu blog menerangkan, ada 10 langkah untuk menulis. Tahap penulisan tersebut antara lain :

1. Menentukan gagasan utama.

Dalam menulis sebuah artikel, gagasan utama harus sudah melekat dalam otak kita. Misalnya, ketika akan menulis soal kenaikan harga BBM, satu gagasan utama harus ada. Misalnya “Saya tidak sepakat kenaikan BBM karena membuat rakyat tercekik”. Gagasan utama ini yang nantinya akan menuntun penulis untuk memberikan alasan dan argumentasi kenapa hal itu bisa terjadi. Kemudian penulis baru mengalirkan tulisan pada dampak yang ditimbulkan dari kebijakan tersebut, kritik terhadap pemerintah, alternatif kebijakan yang semestinya diambil dst.

2. Membuat judul yang menarik.

Misalnya contoh kasus dugaan penipuan yang menimpa Jarwo Kuat (JK) wapres dalam acara televisi republik mimpi. Dalam artikel di Harian Kompas, Indra Jaya Piliang, seorang penulis artikel yang cukup produktif memberikan judul menarik “Matinya Mimpi Republik. Judul ini, selain provokatif (mengundang pertanyaan) juga kental dengan nuansa sastranya. Judul seperti ini diharapkan bisa menarik perhatian redaktur dan pembaca sekaligus.

3. Memfokuskan maksud gagasan.

Jebakan penulis artikel biasanya menulis ngalor ngidul (kemana-mana) padahal ruang artikel dalam media terbatas . Hal ini hanya akan membuat ruwet tulisan karena tidak jelas kemana arahnya, kemana juntrungnya. Memfokuskan pada maksud gagasan diperlukan. Dalam arti, hanya memfokuskan diri untuk membahas tema utama yang sedang diangkat, bukan malah membumbui banyak basa basi yang tidak konteks. Hal-hal yang barangkali penting tetapi tidak ngonteks dengan tema yang sedang dibahas sebaiknya juga dikesampingkan agar tidak melenceng dari tujuan awal menulis. Strategi ini untuk menghindarkan diri penulis agar tidak pecah konsentrasi, tidak membahas tema yang sebelumnya direncanakan, tetapi malah menulis tema yang lain.

4. Memilih model P-D-K atau P-S-P.

Dalam menulis artikel ada konsep P-D-K (Pendirian-Dukungan-Kesimpulan) atau P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendirian). Konsep tersebut untuk mempermudah dalam menentukan model artikel seperti apa yang akan kita tulis. Untuk memberikan dukungan atau sanggahan, bahannya dari pemikiran atau penelitian yang telah kita siapkan sebelumnya. Dengan modal tersebut argumentasi kita akan lebih meyakinkan, berbobot dan bisa diterima baik oleh khalayak pembaca.

5. Menjelaskan benang merahnya.

Kesulitan terbesar yang dihadapi penulis dalam menulis artikel adalah menarik benang merah atas sebuah persoalan. Benang merah ini sebenarnya bukan persoalan dalam keterampilan menulis, tetapi lebih didasarkan pada kapasitas pemikiran kita. Untuk bisa menarik benang merah, resep yang cukup cespleng tak lain tak bukan adalah meramu dua unsur sekaligus. Yaitu referensi dan ketajaman analisis. Hasil ramuan kedua hal ini yang kemudian bisa melahirkan benang merah pemikiran kritis. Dan, tanda-tanda keberhasilannya adalah pembaca akan manggut-manggut mengiyakan setelah membaca tulisan kita.

6. Menentukan sikap penulis.

Dalam kehidupan keseharian, sikap bijak pasti diperlukan. Ketika menulis, sikap normatif ini kadang menjebak kita. Alih-alih ingin bijak, hasilnya malah muncul kesan sok bijak. Maka, sikap tegas penulis perlu diketengahkan. Sehingga akan tampak jelas pembelaannya. Kelihatan jelas sikapnya, pro atau kontra dalam membahas masalah yang ditulisnya. Dengan menggunakan teknik ini kelak khalayak akan tahu dan memberikan identitas dan kekhasan tersendiri kepada penulis tersebut.

7. Menghindari istilah rumit.

Walaupun banyak penulis punya penguasaan spesifik bidang tertentu (misalnya seorang dokter atau psikolog), tapi terlampau menuliskan istilah-istilah yang rumit bagi publik tentu tak bijak. Penulis artikel sebaiknya tidak membebani pembaca dengan istilah-istilah yang asing dan rumit. Alternatifnya adalah mengganti istilah dengan bahasa-bahasa yang umum. Misal abrasi diganti pengikisan, atau signifikan bisa diganti dengan berpengaruh besar, urgen diganti dengan penting. Dengan begitu, pembaca akan lebih nyaman dan lebih mudah memahami maksud tulisan kita.

8. Menentukan sasaran tembak.

Sasaran tembak ini juga perlu dilakukan agar artikel tidak melulu lembut tapi bisa geram. Menyebut nama dan mengatakan pemikirannya salah itu sah-sah saja asalkan dibangun dengan argumentasi yang memadai. Teknik sasaran tembak ini juga bisa digunakan untuk menanggapi tulisan orang. Biasanya, ketika kita menanggapi tulisan orang di media massa, gayung bersambut akan muncul. Teknik ini, selain sebagai strategi kita untuk siap beradu argumentasi (melatih perang pemikiran), juga bisa merangsang dan memaksa kita untuk terus menulis sebelum wacana pro-kontra berakhir.

9. Mempertanyakan atau menggugah.

Penutup artikel perlu mendapat sentuhan agar muncul kesan dari pembaca. Tekniknya bisa dengan mempertanyakan sesuatu atau menulis kata-kata yang menggugah. Prinsipnya, pertanyaan atau penulis kata-kata menggugah tersebut bisa memberikan kesan mendalam kepada pembaca. Misalnya “Akankah Hakim berani memutuskan Soeharto bersalah ?. (contoh pertanyaan yang berusaha memberikan sentilan). Atau, “Semoga masa depan sepakbola kita bisa maju tanpa kekerasan” (Kesan memberikan rasa optimis dan harapan menggugah).

10. Editing.

Inilah tahap akhir kepenulisan artikel. Evaluasi dan koreksi ini proses standar yang mesti dilakukan ketika seseorang telah berhasil membuat sebuah tulisan. Jangan coba-coba mengirimkan tulisan sebelum diedit. Editing terutama diarahkan pada apakah logika berpikir yang dibangun sudah benar atau bisa juga memperbaiki aliran gagasan dengan memperjelas kalimat agar mudah dipahami pembaca. Editing juga mencakup soal EYD dan mempercantik gaya tulisan agar indah, gurih dan enak dibaca.

**** Pentingnya Warnet dikalangan Mahasiswa

Oh Internet,,,,,,Kami MEMBUTUHKAN MU…

Stikom (GERBANG).- Warnet alias warung internet sudah banayak ditemukan dikota maupun pedesaan di seluruh Indonesia.Mulai dari anak kecil sampai kakek nenek pun tak ingin ketinggalan era tekhnologi yang semakin canggih ini. Apalagi untuk pelajar sampai mahasiswa, kesempatan ini tidak di sia-siakan, khususnya oleh mahasiswa/I Stikom bandung, yang memanfaatkan warnet di sekitar kawasan Phh.Mustofa.

Setiap warnet mempunyai tarif perjam berbeda, yang berkisar antara Rp.3000-4000 /jam, itupun tergantung kenyamanan yang diberikan warnet itu. Pada Umumnya mahasiwa/i Stikom mampu berjam-jam nongkrong didepan komputer. Dengan internet mahasiswa sangat dimudahkan mencari bahan untuk dijadikan makalah maupun bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan perkuliahan, atau bahkan hanya sekedar mengisi kekosongan jikalau dosen yang bersangkutan tidak hadir dalam kelas.

Itu terjadi dengan Sri, Echi sapaan akrabnya, mahasiswi angkatan 2007 jurusan broadcasting ini mengaku, “Kewarnet, emang udah jadi kebiasaan, hidup hampa kalo ga buka fesbuk, bahkan aku ngebela-belain untuk ga jajan, hanya untuk ngenet dan chatingan dech” tutur perempuan berambut panjang ini. Saat ditemui di salah satu warnet langganan anak Stikom.

Sebenarnya untuk menggunakan internet, Stikom Bandung sudah menyediakan fasilitasnya, tepat dilantai atas ruang Lab Com. Akan tetapi sangat disayangkan, terkadang internetnya selalu not responding. Dan komputer yang ada internet nya pun hanya ada 1, jadi nunggu giliran aja sama yang lain........(Tya)

Minggu, 28 Juni 2009

NEWS Stikom part 1

STIKOM, (GERBANG) Setiap sudut kampus dihuni oleh beberapa mahasiswa. Mereka berkelompok satu sama lain dan menempat “lapak” masing-masing. Sejak pagi, kegiatan perkuliahan berjalan seperti biasa. Namun, beberapa mahasiswa belum juga beranjak dari kampus setelah malam tiba. Menjelang sore hingga malam hari, suasana kampus seolah berubah menjadi tempat nongkrong yang menyenangkan bagi mahasiswa.

Suasana seperti itu tidak berubah semenjak Stikom berpindah tempat ke kawasan PHH Mustopha atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Jalan Suci. Tidak hanya mahasiswa semester awal yang sering nongkrong di beberapa sudut kampus. Mahasiswa dari angkatan jebot, bahkan alumni masih sering berkeliaran untuk sekedar duduk atau nongkrong bersama adik kelasnya.

Lantas, apa yang membuat mereka begitu betah ngaso di kampus. Padahal, tidak ada kegiatan belajar pada sore hingga malam hari. Hal itu sepertinya menjadi tradisi baru setelah hijrah dari Lodaya. Bagi sebagian mahasiswa yang sempat merasakan sejumlah kenangan di kampus lama yang ada di kawasan Lodaya. Meskipun satu gedung digunakan berbagi dengan PSSI, tapi tetap saja bagi mereka suasana Lodaya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Ada beberapa sebab kenapa mahasiswa Stikom begitu nyaman menghuni kampus hingga malam hari. Pertama, banyak dari mereka yang merupakan anak kost. Biasanya, mereka yang merupakan anak kost merasa kesepian saat berada di kost-kostannya. Makanya, mereka mencari suasana yang dapat membuat mereka nyaman. Salah satunya dengan kongkow-kongkow di kampus dengan teman-temannya yang dianggap nyambung ataupun sekedar gonjreng- gonjrengan di kampus.

Ke-dua banyak juga mahasiswa/i yang mempunyai pacar senior. Nah, untuk kriteria ke tiga ini, bukan lagi “KUNANG KUNANG” (Kuliah Nangkring-Kuliah Nangkring. red) akan tetapi “KULTUM” alias (Kuliah Tuluy Molor. red) ada beberapa mahasiswa yang sering tidur di SEKRE atau mushola sekalipun, untuk kelompok mahasiswa ini ialah mahasiswa yang tidak punya ongkos untuk pulang.

“Bukan saya yang mau, tapi keadaan yang memaksa, soalnya u know lah.......?” ujar Tara, salah satu mahasiswa Stikom 2007 jurusan Public Relation.

Satu lagi kriteria terakhir ialah kelompok “KURA KURA” alias Kuliah rapat-Kuliah Rapat, untuk kelompok yang satu ini, aktif banget di UKM-UKM yang ada dikampus. Makanya mereka menghabiskan sebagian waktu mereka untuk mengurusi kegiatan-kegiatan yang ada dikampus sampai sang fajar tenggelam di ufuk barat sana. (Tya)

Selasa, 12 Mei 2009

Jenis Golongan Darah Bisa Picu Kanker


Jenis golongan darah bisa mempermudah seseorang untuk terserang penyakit kanker. Hal itu dikarenakan kekentalan darah yang dimiliki tidak sama satu dengan yang lain. Golongan darah A dan AB relatif memiliki kekentalan, sementara golongan darah B dan O lebih encer.

Yang jelas hal itu bisa dicegah dengan cara berolah raga agar sirkulasi darah bagus. Orang dengan golongan darah A dan AB menyebabkan virus akan menempel dengan mudah di pembuluh darah. Sehingga menyebabkan sel darah putihnya lebih sedikit dibanding dengan sel darah merah. Namun sebaliknya, orang dengan golongan darah B dan O, jumlah sel darah putihnya lebih banyak sehingga ketika terjadi pembelahan sel darah merah, jumlah sel darah putih lebih banyak sehingga bisa mencegah penyakit kanker lebih baik.

Penyakit kanker ini terbagi ke dalam beberapa macam, yaitu kanker payudara, kanker rahim, kanker prostat, dll. Gejala yang ditimbulkan pun berbeda-beda, tergantung dari kanker apa yang menyerang. Namun yang jelas, proses terjadinya kanker pada manusia terjadi melalui tiga fase, yaitu iniasi, promosi dan progresi dengan diikuti munculnya benjolan-benjolan.

Benjolan tersebut yaitu, benjolan kelenjar getah bening (KGB), benjolan berupa kista dan benjolan tumor. Benjolan KGB biasanya muncul di belakang telinga, leher belakang dan ketiak. Kemudian benjolan berupa kista, benjolan ini berisi cairan padat berbentuk gel yang biasanya muncul di payudara dan rahim. Sedangkan benjolan tumor adalah daging yang tumbuh di mana dalam pertumbuhannya tidak terkendali.

Benjolan tersebut diawali dengan tumor jinak yang bisa muncul di dalam ataupun di luar tubuh. Benjolan-benjolan tersebut bila dibiarkan dan tidak ada tindakan dari staf medis atau dokter pada akhirnya dapat berubah menjadi kanker. Hal inilah yang harus diwaspadai oleh masyarakat.

Sementara itu, gejala atau keluhan umum yang sering dirasakan oleh seseorang yang terkena kanker adalah buang air besar tidak tuntas. Selain itu, beberapa gejala lainnya adalah peses atau kotoran berwarna hitam kemerahan dan berlendir, sesak napas tidak kunjung sembuh padahal tidak memiliki asma, serta batuk kering yang tidak kunjung sembuh padahal tidak punya penyakit paru-paru.

Faktor penyebab kanker sendiri diketahui dari beberapa hal. Namun yang jelas, faktor tersebut adalah dari faktor genetik atau keturunan, faktor lingkungan, dan faktor pola makan di mana karsinogen yang dikonsumsi tidak terkendali. Karsinogen tersebut adalah seperti pengawet, penguat atau penyedap rasa, pengenyal makanan, pewarna kimia, sakarin atau pemanis buatan, serta sisa pembakaran atau pengasapan yang disebut nitrosamin.


Cara hemat dan sehat untuk mencegah kanker dapat dilakukan dengan beberapa hal. Mengurangi karsinogen menjadi hal yang harus diutamakan. Selain itu mengonsumsi anti oksidan juga menjadi hal penting lainnya selain olah raga dan immunotherapy kanker. Yang dimaksud dengan immunotherapy kanker adalah salah satu cara pencegahan untuk kanker secara kimia dan biologi atau herbal. (theraphy imunology) yang berfungsi mencegah aktifnya sel kanker di dalam tubuh...

Kisruh DPT, Kurangnya Ketelitian KPU

PELAKSANAAN pemilihan umum legislatif (pileg) yang dilaksanakan 9 April lalu, menyisakan celah yang lumayan memalukan. Bagaimana tidak, jutaan hak pilih harus dikorbankan akibat kurangnya ketelitian Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam melakukan pendataan pemilih. Mereka yang tidak masuk ke dalam daftar pemilih tetap (DPT) pileg, harus rela tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

Namun, hal itu merupakan salah satu kekurangan dari sekian banyak kekurangan dalam pelaksanaan pileg lalu. Sebenarnya, banyak sekali kekurangan yang ada pada pelaksanaan pileg tersebut. Dan seharusnya, kejadian seperti itu tidak kembali terulang pada pelaksanaan pemilu presiden (pilpres) nanti.

Saat ini, KPU sudah melakukan proses pemutakhiran data pemilih. Tercatat sejak 11 hingga 17 Mei, hasil pemutakhiran data pemilih sudah bisa dilihat di tiap kelurahan. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah proses pemutakhiran tersebut menjamin tidak akan ada warga lagi yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya? Pertanyaan tersebut tampaknya akan terlihat pada pelaksanaan pilpres nanti.

Bisa dipastikan, jumlah pemilih akan bertambah pada pilpres nanti. Sejumlah pemilih pemula yang tercatat di Dinas Kependudukan masing-masing daerah, akan menambah jumlah hak pilih. Namun, apakah hak pilih itu akan digunakan atau tidak, itu tergantung dari kesadaran politik para pemilih. Jangankan pemilih pemula, pemilih yang sudah pernah mengikuti pemilu pun belum tentu melakukan hak pilihnya.

Pada 18 hingga 24 Mei nanti, hasil pemutakhiran tersebut akan direkapitulasi oleh KPU. Pada saat tersebut, hasil pemutakhiran bisa dikritisi oleh masyarakat dan parpol peserta pemilu. Maka dari itu, mereka yang tidak terdaftar dalam DPT pileg, bisa melihat apakah pada pilpres nanti mereka mempunyai hak pilih atau tidak.

Data pemilih untuk pilpres sendiri diambil dari DPT pileg yang kemudian statusnya berubah menjadi daftar pemilih sementara (DPS). Setelah statusnya berubah menjadi DPS, maka KPU akan menetapkan DPS tersebut menjadi DPT pilpres. Tambahan pemilih sendiri didapat dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (PPDP).

Berkaca dari kisruh yang diakibatkan banyaknya warga yang tidak masuk ke dalam DPT, KPU seharusnya sadar bahwa proses pendataan untuk daftar pemilih dilakukan dengan lebih teliti. Sebenarnya, proses pemutakhiran bisa dilakukan dengan lebih teliti. Salah satunya adalah dengan melakukan pendataan tingkat RT dan RW.

Keberadaan RT sebenarnya bisa dimaksimalkan agar tidak terjadi kembali kisruh seperti yang terjadi pada pileg lalu. Secara keseluruhan, para ketua RT atau RW pasti lebih tahu siapa saja warga yang mempunyai hak pilih pada setiap pelaksanaan pemilu. Karena setiap RT maupun RW lebih mengetahui jumlah warganya yang sudah memenuhi persyaratan untuk bisa menggunakan hak pilih.